HALLOJABAR.COM – Di setiap kepulauan atau provinsi yang ada di Indonesia terdapat banyak kebudayaan dan tradisi yang masih di laksanakan secara turun temurun hingga saat ini,salah satunya adalah “tradisi lisan”.

Tradisi lisan adalah tuturan yang di wariskan secara turun temurun oleh masyarakat seperti Sejarah lisan, Dongeng, Cerita Rakyat, Rapalan dan  Pantun.

Tradisi lisan merupakan salah satu dari Sepuluh Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) yang termaktub dalam UU Pemajuan Kebudayaan no 5 tahun 2017.

Pantun sebagai khazannah tradisi lisan dan bagian dari kekayaan budaya Indonesia mempunyai keistimewaan sendiri.

Karena dimiliki oleh seluruh suku yang ada di  Indonesia dari tanah Aceh sampai ke Papua dengan ciri khas yang berbeda dan fungsi yang tidak selalu sama.

Seperti di Jakarta (Betawi) ada berbalas Pantun di setiap acara pernikahahan, Didong di Gayo-Aceh di iringi dengan musik dan tari dan Pantun Sunda di Jawa Barat dan Banten yang di iringi dengan musik kecapi.

Pantun Sunda pengertiannya berbeda dengan pantun melayu, pantun dalam budaya melayu semakna dengan sisindiran yaitu puisi yang terdiri atas dua bagian sampiran dan isi.

Sedangkan pantun Sunda adalah seni pertunjukan yang menurut sebagian orang masih disakralkan.

Baik dalam kandungan cerita maupun pertunjukannya dan biasanya disajikan dalam acara ritual yang berkaitan dengan adat istiadat. 

Pantun sunda adalah cerita tutur dalam bentuk sastra Sunda lama yang disajikan secara paparan (prolog), dialog dan sering kali ditembangkan/dinyanyikan.

Penuturan carita dalam pantun sunda hanya diiringi alat musik kecapi lisung yang bersenar tujuh dan di mainkan sendiri oleh pemantun.

Seiring berjalannya waktu ada pula yang di tambah dengan iringan bunyi seruling dan alat musik sunda lainnya.

Pantun sunda sudah ada sejak tahun 1518 M pada zaman Pajajaran seperti yang tertulis dalam naskah kuno Siksa Kandang Karesian.

Dimana ketika itu juru pantun melakonkan carita Anggalarang, Banyakcatra, Haturwangi dan Siliwangi.

Dahulu kala bilamana seorang Raja ingin mengetahui cerita tentang leluhurnya maka di panggillah juru pantun

Lalu juru pantun akan memetik kecapi dan menceritakan tentang perjalanan hidup leluhur Raja tersebut sampai akhir hayatnya.

Besar kemungkinan pantun di ciptakan oleh kaum elit (bangsawan) budayawan sunda.

Dugaan ini diperkuat oleh adanya beberapa puisi, prosa dalam carita pantun yang sungguh mendalam makna filsofinya.

Secara umum pola pertunjukan pantun sunda dapat diurutkan sebagai berikut di awali dengan penyediaan sesajen.

Lalu ngukus membakar kemenyan, mengumandangkan rajah bubuka (pembuka), lalu isi cerita dan rajah penutup (pamunah).

Rajah bubuka dan rajah penutup biasanya ditembangkan/dinyayikan sedangkan isi cerita ditembangkan/dinyanyikan dan atau dibacakan narasinya dan para pemantun sudah hapal di luar kepala baik itu rajah dan atau isi cerita.

Di antara kisah kisah Pantun Sunda yang terhitung masih lengkap dengan bahasa sundanya yang khas adalah Pantun Bogor.

Portal berita ini menerima konten video dengan durasi maksimal 30 detik (ukuran dan format video untuk plaftform Youtube atau Dailymotion) dengan teks narasi maksimal 15 paragraf. Kirim lewat WA Center: 085315557788.

Pantun Bogor di tulis sekitar akhir abad ke-18 oleh juru pantun yang menamakan dirinya Aki Buyut Baju Rambeng yang tinggal di wilayah Jasinga Bogor.

Kemudian naskah naskah pantun tersebut di wariskan kepada Rd Mochtar Kala yang kemudian lebih di kenal dengan nama samaran Rakean Minda Kalangan.

Dari sekian banyak yang belajar pantun bogor kepada Rd Mochtar Kala hanya dua orang yang terpilih untuk mewarisi naskah pantun Bogor.

Yakni sejarahwan/penulis almarhum Bapak Saleh Danasasmita dan almarhum Ki Anis Djatisunda.

Ketika itu Ki Anis Djatisunda menjelaskan bahwa pantun bogor di wariskan dengan budaya tutur ia dan almarhum Bapak Saleh Danasasmita dilarang keras mencatat saat menerima.

Ki Anis juga menuturkan bahwa pantun bogor yang ia tuturkan/ceritakan kepada khalayak umum dewasa ini hanya di ambil dari naskah pantun Bogor Leutik.

Sedangkan naskah pantun Bogor Gede dengan teks aslinya masih dirahasiakan untuk umum, kecuali orang-orang tertentu karena sifatnya yang sakral, jelas Ki Anis.

Pantun Bogor Leutik berkisah tentang kehidupan sehari hari masyarakat Pajajaran, tentang putri raja dan para kesatria.

Sedangkan pantun Bogor Gede berkisah tentang Agama, Silsilah Raja-Raja Sunda, Ramalan/Uga dan Pola Pemerintahan Kerajaan Sunda.

Jalan ceritanya lebih bersifat sejarah dan bahasa yang digunakan bahasa Bogor bagian barat.

Bila dikaji dari seluruh isi tiap judul cerita, pantun Bogor Leutik memiliki kelainan apabila dibandingkan dengan cerita-cerita pantun sunda lainnya.

Pantun Bogor Leutik selain menceritakan peristiwa-peristiwa seputar masa jayanya kerajaan Pajajaran juga lebih berfokus kepada peristiwa tatkala saat pahit getirnya ketika mendapat serbuan dari pihak musuhnya.

Sehingga nada-nada ekstrim senatiasa mendominasi gaya penuturannya dimana hal ini menjadi suatu gaya yang khas dari pantun Bogor Leutik itu sendiri.

Menyimak kisah pantun bogor bukan hanya mendengarkan alur cerita seperti mendengarkan kisah dongeng melainkan harus bisa memecahkan Silib, Sampir dan Siloka yang terkandung di dalamnya.

Selain itu kadang juga diselipi totonden mangsa dan uga/ramalan, juga terdapat topografi atau toponimi nama-nama daerah atau tempat kejadian yang hingga kini masih ada atau di abadikan.

Seperti cerita di salah satu pantun Bogor Leutik episode Pakujajar di Lawang Gintung,dalam penggalan ceritanya diceritakan ketika terjadi pertempuran di sebuah benteng yang berada di Lawang Gintung.

Benteng di Lawang Gintung adalah sebuah benteng bagian dalam menuju keraton, benteng ini adalah benteng yang sangat kokoh yang mempunyai lebar dasar 7 meter dan tinggi 4 meter dan di bagian atasnya dikeraskan dengan batu.

Masih menurut pantun Bogor,  pasukan musuh bisa menjebol benteng ini dikarenakan adanya penghianatan dari orang dalam Pajajaran.

Di atas benteng tersebut seorang Patih Taman yaitu Raden Wilang Natadani menghembuskan napas terakhirnya ketika pasukan Banten, Demak, Cirebon meyerbu dan mengepung Keraton Pakuan.

Sang Patih Taman mengamuk dan mencoba membuka jalan dari kepungan musuh agar tidak masuk ke wilayah keraton.

Ia tidak menyadari bahwa dirinya sedang diincar oleh para pemanah, ketika ia melompat keatas benteng tiba-tiba sebuah anak panah melesat menembus dadanya sehingga ia jatuh tersungkur dan akhirnya gugur.

Berikut penggalan ceritanya, :

Tapi samemeh sukma misah ti raga nu baris musna, ceuk inyana sabari ngusap-ngusap taneuh kuta :

Rasa heueuh nya di dieu, buntu gurat tulis kaula, lebur wujud musna waruga !

Tapi dia, kuta ! Dia mudu maneuh jadi tetengger, jadi panuduh ka arinyana anu daratang engke pandeuri !

Sabab, dina dia jadi rurub ngaran kaula, mudu dia engke jadi patilasan pieun bukti,

Pieun nuduhkeun ka sakur anu engke nyarusul di jaman nu baris datang:

PAJAJARAN TENGAH memang nyorang AYA, nyorang jaya boga Raja,nyorang jembar jeung raharja.

Pajajaran tengah nyorang ngadeg, jadi galeuh nagara pancabaga!

Kuta! Dia mudu maneuh jadi kuta maneuh pajajaran,

Terjemahan bebasnya :
“Tapi sebelum nyawanya meninggalkan raga ,

Raden Wilang Natadani sambil mengusap‐ngusap benteng tersebut berkata,

Rasanya di sini akhir perjalanan hidupku, tapi kamu kuta (benteng) kamu harus tetap ada agar menjadi bukti,

Dan menjadi petunjuk bagi mereka yang datang di masa yang akan datang bahwa pajajaran memang pernah ada di saat bukti-bukti lain hilang.

Dan nanti namaku akan selalu menyertai namamu karena nanti akan menjadi sebuah patilasan sebagai tanda bukti untuk memberikan petunjuk.

Bahwa Pajajaran pernah ada,dan rakyatnya hidup makmur serta sejahtera juga mempunyai seorang Raja besar yang sangat termasyur(terkenal)

Kuta kamu harus menjadi tetap (maneuh) jadi Kuta Maneuh pajajaran “.

Setelah berkata demikian Raden Wilang Natadani menghembuskan nafasnya yang terakhir tepat di atas benteng lawang gintung,sejak saat itu benteng tersebut di sebut kuta maneuh sampai sekarang.

Sejak tahun 1806 Prasasti Batutulis sudah di teliti, telah ada 4 orang ahli yang meneliti isinya.

Diantara para peneliti hanya C.M Pleyte yang mencurahkan perhatiannya terhadap lokasi kraton pakuan.

Ketika melakukan penelitian pada pertengahan tahun 1903 C.M Pleyte menemukan sisa benteng kota yang paling besar di Lawang Gintung, penduduk setempat yang di wawancarai menyebut sisa benteng ini “Kuta Maneuh”.

Di lokasi kuta maneuh tersebut terdapat patilasan yang oleh penduduk di sebut Makam /Patilasan Kutadani.

Menurut sesepuh bogor pada  tahun  1976-an gundukan batu yang masih berupa dinding terdiri dari batu alam seperti bata besar masih terlihat.

Pada akhir tahun 2007 para sesepuh bogor dan budayawan melakukan napak tilas ke Patilasan Kutadani di sana sisa benteng tersebut masih terlihat.

Dengan tinggi sekitar 2 meter dan lebar 5 meter dan panjangnya kurang lebih 150 meter namun tertutup belukar tutur sesepuh bogor.

Menurut keterangan penduduk setempat benteng tersebut memang tidak bisa diratakan atau dibongkar.

Pernah buldoser milik Pusdiksi mencoba meratakan benteng tersebut malah yang terjadi buldozer tersebut tidak bisa maju.

Hal ini beberapa kali dicoba tapi selalu gagal sehingga Komandan Pusdiksi kala itu memutuskan agar merawat benteng tersebut untuk dilestarikan.

Jadi kata-kata terakhir Sang Patih Taman yang mengatakan bahwa benteng tersebut harus tetap ada sampai kapanpun ternyata terbukti.

Menurut Bapak Suman suami Ibu Ponirah Jupel (juru pelihara) Situs Kutadani mengatakan bahwa situs Kutadani sudah diakui oleh pemerintah Kota Bogor sebagai cagar budaya.

Dan diresmikan pada tanggal 4 Ocktober 2008 langsung oleh Wali Kota Bogor yang kala itu di jabat Bapak Drs H Diani Budiarto Msi.

Pak Suman menambahkan sebelum peresmian dilakukan pemugaran dengan di bangunnya sebuah cungkup dan bangunan kecil di lokasi patilasan Raden Wilang Natadani ini.

Di luar bangunan patilasan terdapat plang yang bertuliskan bahwa Situs Kutadani yang terletak di komplek Pusdikzi Rt 05 Rw 02 Kelurahan Lawang Gintung Kecamatan Bogor Selatan Kota Bogor adalah termasuk Cagar Budaya yang di lindungi oleh Undang Undang.

Selain lalakon Pakujajar di Lawang Gintung,pantun bogor yang di miliki oleh Ki Anis Djatisunda juga masih ada beberapa judul lainnya.

Di antaranya lalakon Pakujajar Beukah Keumbang, Kalang Sunda Makalangan, Pajajaran Seuren Papan, Ronggeng Tujuh Kasirna, Disaeurna Talaga Rancah Maya dan lain lainnya.

Saat ini kesenian pantun sudah hampir jarang terdengar, baik di wilayah Bogor khususnya dan tatar sunda pada umumnya.

Kalaupun masih ada yang menggelar atau melaksanakan adalah beberapa komunitas budaya yang peduli akan warisan budaya leluhurnya dan kampung adat yang masih bertahan.

Seperti Kampung Budaya Sindang Barang Bogor,Masyarakat Kanekes (Baduy), Kampung adat Ciptagelar (Sukabumi ), Kampung Kiara Pandak (kampung urug) Cigudeg Bogor, dan lain-lainnya.

Pantun bogor lebih mendalam skrip alur ceritanya oleh sebab itu pantun Bkgor pasti berkaitan dengan yang lainya seperti situs-situs peninggalan Kerajaan Pajajaran dan atau naskah naskah sunda kuno lainnya.

Pantun Bogor bisa menjadi pintu gerbang awal untuk menyibak kabut misteri yang belum terungkap khususnya tentang Kerajaan Pajajaran.

Pantun Bogor perlu mendapat perhatian dari pemangku kepentingan yaitu Pemerintah Kota Bogor/Kabupaten Bogor.

Saat ini pemerintah memang belum memberikan pengayoman yang bersifat legal terhadap pantun bogor dan maestronya, seperti hak paten pantun Bogor dan penobatan maestronya.

Akan tetapi upaya pemertahanan keberadaan pantun Bogor sudah dilakukan pemerintah Kota Bogor dengan diadakannya pembacaan pantun Bogor dalam sidang paripurna yang di selenggarakan secara rutin setiap tahun saat perayaan hari jadi Bogor.

Upaya revitalisasi dan pelestarian pantun Bogor tentu saja tidak cukup sampai di situ, karena seiring perkembangan zaman banyak hambatan yang dapat mengancam keberadaan pantun bogor.

Revitalisasi dan pelestarian pantun bogor khususnya dan tradisi lisan Bogor lainnya seyogyanya tidak tergeser oleh arus modernisasi.

Sehingga masyarakat bogor sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat indonesia tidak kehilangan salah satu kekayaan budayanya atau identitasnya.

Semoga Situs Kutadani dan Pantun Bogor tetap terjaga dan lestari selalu.

Di akui secara politis dan umum cikal bakal Bogor adalah kerajaan Pajajaran.

Sejarah adalah cermin kehidupan masa lalu yang bisa kita jadikan pijakan dan pelajaran untuk menatap dan menata perikehidupan kita di masa depan.

Yang ada sekarang adalah hasil masa lampau dan yang di lakukan sekarang buat masa depan.

Oleh: Yan Brata Dilaga, Wartawan Budaya.***

Jasasiaranpers.com dan media online ini mendukung program manajemen reputasi melalui publikasi press release untuk institusi, organisasi dan merek/brand produk. Manajemen reputasi juga penting bagi kalangan birokrat, politisi, pengusaha, selebriti dan tokoh publik.